TORAJA–Masih hangat di telinga kita soal kasus penikaman yang menewaskan seorang pria paruh baya di Mariali, Kelurahan Bungin, Kecamatan Makale Utara, Tana Toraja pada Jumat (21/2/2025) lalu.
Peristiwa berdarah ini akibat jatah daging kepada masyarakat dari acara Rambu Solo’ (kedukaan) yang diduga diperjualbelikan.
Kejadian ini turut mendapat perhatian dari Anggota DPRD Tana Toraja, Randan Pantong Sampetoding.
Bahkan, Legislator Golkar itu menuturkan, di beberapa kegiatan Rambu Solo’ telah disusupi oleh Mafia Duku’ (daging).

Randan Sampetoding, Anggota DPRD Tana Toraja Fraksi Golkar Periode 2024-2029
Mafia duku’ ini kata dia, mengumpulkan jatah daging masyarakat yang terkoordinasi dengan oknum yang dianggap penting dalam kegiatan Rambu Solo’.
“Ini karena memang sudah terlalu banyak dan marak mafia duku’ di setiap Rambu Solo’. Memang sudah mesti dipikirkan bersama oleh ambek dan to Parengnge’ lan Tondok. Cuman susahnya hampir semua terlibat,” ujar Randan, Minggu (23/2/2025).
Tak tanggung-tanggung, menurut Randan, para mafia daging ini sudah terbiasa dengan hal tersebut, sehingga daging dalam posrsi terbatas pun juga ‘digelapkan’.
“Karena sebagian besar sudah terbiasa, tapi karena terbatas akhirnya jatah yang memang sudah kecil masih digelapkan juga,” ketusnya.
“Dan ini sebenarnya sudah boleh dikategorikan pencurian. Bisa dilaporkan ketika ada yang kedapatan, tapi memang kadang masyarakat kecil susah dan ketakutan karena ada tokoh yang terlibat,” bebernya.
Dijelaskan Randan, akibat ulah para mafia daging ini tentu juga akan merugikan pihak keluarga yang menggelar upacara Rambu Solo’, selain itu merusak tatanan adat istiadat suku Toraja dalam pelaksanaan Rambu Solo’.
“Pulang dari rantau jauh-jauh, ambil kredit, jual sawah, bahkan pinjam sana sini hanya untuk melaksanakan upacara adat dengan menyiapkan segala macam, babi dan kerbau tapi dikerjain sama mafia duku’,” ujarnya.
“Bisa dibayangkan, tiga ekor kerbau, setengah dagingnya itu bisa dimainkan mafia duku’ dan lari ke pasar untuk diperdagangkan. Bukan kebutuhan pasar, tapi memang ada pergeseran nilai-nilai kesakralan dari adat istiadat kita yang dimanfaatkan oleh oknum-oknum yang tidak beres dalam penyelenggaraan sebuah upacara adat,” ketusnya.
Randan menambahkan, para mafia daging ini semakin leluasa, dan bebas masuk ke sebuah pesta Rambu Solo’. Hal ini karena mereka terorganisir oleh oknum yang memiliki kekuasaan dalam suatu wilayah.(*)
tompaseru
