TORAJA–Ketegangan di sekitar Tongkonan Ka’pun Kurra, Tana Toraja, meningkat tajam menjelang eksekusi yang dijadwalkan Kamis (4/12/2025).

Di balik dinding kayu berukir warisan leluhur itu, suara penolakan kian keras. Mahasiswa dan keluarga besar Ka’pun menyatakan tidak akan menyerahkan rumah adat diruntuhkan.

“Kami tidak tinggal diam. Kami lawan,” teriak demonstran lewat mimbar terbuka saat gelar demo di PN Makale, Senin (1/12/2025) lalu.

Seruan itu terdengar lantang. Mahasiswa dan keluarga Tongkonan menegaskan bahwa sengketa ini bukan sekadar perkara hukum, tetapi pertaruhan harga diri, sejarah, dan simbol identitas keluarga.

Di sisi lain, aparat kepolisian bersiap dalam skala operasi besar. Sebanyak 260 personel akan diturunkan.

Jumlah itu gabungan 200 anggota Polres Tana Toraja dan 60 personel Brimob Parepare (BKO) untuk mengamankan proses eksekusi.

Jumlah ini tergolong besar untuk eksekusi perdata, menandakan tingkat risiko yang diprediksi mengemuka.

“Ada 200 personel Polres Tator dan dibackup 60 Brimob Parepare. Semua di bawah komando Kapolres,” kata Kabag Ops Polres Tana Toraja, AKP Yulianus Tedang Rabu (3/12/2025).

Menurut Yulianus, penambahan Brimob dilakukan setelah intelijen memetakan potensi resistensi massa. Situasi disebut perlu “extra cautious”.

Polisi ingin memastikan proses berjalan tertib, tetapi fakta di lapangan menunjukkan bahwa ketegangan sosial juga harus diperhitungkan.

Eksekusi ini berlandaskan surat Pengadilan Negeri Makale Nomor W22-U10/1080/HPDT/12/2025, ditandatangani Ketua PN Makale, Medi Rapi Randa Batara, tertanggal 1 Desember 2025. (tp)

Tags: , , , , , ,