TORAJA–Kementerian Kesehatan RI kembali memberikan pengakuan kepada daerah-daerah di Indonesia yang berhasil menekan kasus penyakit menular tertentu.
Sebanyak 86 kabupaten/kota di Indonesia menerima Sertifikat Eliminasi Frambusia, salah satunya adalah Kabupaten Tana Toraja, Sulawesi Selatan.
Pengumuman dan penyerahan sertifikat tersebut dilakukan secara nasional melalui pertemuan virtual, Rabu 20 Agustus 2025. Bupati Tana Toraja, Zadrak Tombeg, turut hadir secara daring dan menyaksikan momen ini.
Bupati Zadrak menyampaikan bahwa penghargaan tersebut merupakan bukti nyata keseriusan pemerintah daerah dalam menjaga kesehatan warganya.
“Ini menjadi satu lagi bukti komitmen Pemda Tana Toraja dalam memperhatikan derajat kesehatan masyarakat. Raihan ini tentu menjadi motivasi bagi kami untuk terus meningkatkan layanan kesehatan di Bumi Lakipadada,” ujarnya.
Apa itu Frambusia?
Frambusia merupakan penyakit menular kronis yang disebabkan oleh bakteri Treponema pallidum pertenue. Penyakit ini menyerang kulit, tulang, dan persendian, terutama pada anak-anak yang tinggal di daerah dengan sanitasi kurang baik.
Gejala awal biasanya berupa luka pada kulit yang tidak kunjung sembuh, kemudian bisa menyebar ke bagian tubuh lain.
Frambusia ditularkan melalui kontak langsung dengan kulit penderita, sehingga pencegahan sangat bergantung pada perbaikan pola hidup bersih serta akses layanan kesehatan.
Meski tidak mematikan, penyakit ini bisa menimbulkan kecacatan permanen jika tidak ditangani dengan baik.
Eliminasi Frambusia di Tana Toraja
Raihan sertifikat eliminasi ini menunjukkan bahwa Tana Toraja telah memenuhi indikator yang ditetapkan Kemenkes, di antaranya angka kasus frambusia yang sudah tidak ditemukan lagi secara endemis serta tersedianya sistem surveilans yang memadai.
Hal ini tidak lepas dari kerja keras tenaga kesehatan, puskesmas, hingga dukungan masyarakat dalam menjalankan pola hidup bersih dan sehat.
Dengan diraihnya sertifikat ini, pemerintah daerah berkomitmen untuk terus menjaga capaian tersebut.
Bupati Zadrak pun menegaskan, keberhasilan eliminasi frambusia bukan berarti berhenti melakukan pengawasan, tetapi justru menjadi awal untuk menjaga agar penyakit tersebut tidak kembali muncul di Tana Toraja.(*)
