TORAJA UTARA–Kepala Puskesmas Pangala’, Toraja Utara, Jon Padidi mengklarifikasi terkait penolakan penjemputan pasien menggunakan ambulance oleh pihaknya.
Menurut Jon, pihaknya tidak menolak, hanya persoalan komunikasi. Jon juga mengakui pihak Puskesmas Pangala’ sempat mendapat telepon dari keluarga pasien.
Namun ia beralasan pihaknya tengah sibuk melayani pasien lain di puskesmas saat panggilan telepon masuk.
“Memang sempat ada yang menelpon, tapi saya sudah konfirmasi teman-teman perawat yang saat itu mungkin lagi sibuk bekerja di Puskesmas,” katanya via seluler, Sabtu (19/4/2025).
Terkait tudingan menolak mengantar saat pasien telah meninggal dunia, Jon mengakui hanya mengikuti standar pelayanan atau peruntukan penggunaan ambulance.
Ambulance kata dia, sesuai SOP hanya digunakan untuk pasien, bukan untuk mengantar atau menjemput jenazah.
“Kami tidak berani ambil tindakan, karena di atas ambulance banyak alat-alat kesehatan, kami takut rusak,” ujarnya.
Jon menuturkan, pihaknya terus berupaya memberi pelayanan kesehatan terbaik kepada masyarakat. Ia menyebut tak mungkin mengabaikan masyarakat yang membutuhkan layanan kesehatan.
“Kami tidak ada niat sama sekali membiarkan masyarakat seperti ini. Dan, saat almarhum tiba di puskesmas kami layani, bahkan sudah dalam proses pembuatan rujukan ke rumah sakit, tapi kondisinya semakin lemah dan akhirnya meninggal dunia,” ungkapnya.
Dinkes Baru Berencana Siapkan Mobil Jenazah
Terpisah, Kepala Dinas Kesehatan Toraja Utara, Elisabet mengatakan bahwa Ambulance tidak dapat digunakan mengangkut jenazah.
Meski begitu, hal ini menjadi tugas Pemda Toraja Utara dalam penyedian mobil jenazah.
“Kalau soal antar jenazah ke rumah duka, ambulance PKM tidak dapat dipakai angkut jenazah, dan ini menjadi plan kedepan untuk kami usulkan pengadaan ambulance jenazah,” papar Elisabet terpisah.
“Saat ini yang ready ambulance jenazah ada di RSUD Pongtiku, dan RS ELIM. Selama ini PKM sering pakai itu termasuk ambulance milik partai politik,” pungkasnya.
