TORAJA–Barisan peserta upacara berdiri khidmat menghadap makam sang pejuang. Di hadapan mereka, sejarah seolah hidup kembali, mengenang sosok Pongtiku, putra Toraja yang memilih berjuang daripada tunduk pada penjajahan.

Tanggal 10 Juli bukan sekadar angka dalam kalender. Bagi masyarakat Toraja, hari ini adalah pengingat akan keberanian, harga diri, dan pengorbanan.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, pemerintah daerah menggelar upacara peringatan Hari Pahlawan Nasional Pongtiku, yang tahun ini memasuki peringatan ke-23 sejak namanya resmi tercatat sebagai pahlawan nasional.

Bupati Toraja Utara, Frederik Victor Palimbong, memimpin upacara dengan penuh penghormatan. Dalam amanatnya, ia menyampaikan bahwa 10 Juli merupakan momentum penting, karena tepat pada tanggal inilah Pongtiku dieksekusi oleh tentara Belanda, namun tidak pernah benar-benar kalah.

“Pongtiku bukan hanya milik Toraja atau Sulawesi Selatan. Ia milik seluruh rakyat Indonesia. Ia adalah simbol kegigihan untuk merdeka,” ujar Frederik dalam amanatnya.

Pongtiku, dikenal sebagai pemimpin yang tak hanya cerdas dalam strategi, tetapi juga setia kepada rakyatnya.

Ia menolak tunduk pada kekuasaan kolonial, bahkan ketika itu berarti mempertaruhkan nyawanya. Semangat itu, menurut Frederik, adalah warisan yang tak boleh padam.

“Marilah kita lanjutkan perjuangan beliau melalui bidang pengabdian kita masing-masing. Hanya dengan semangat juang, disiplin, dan rasa kesetiakawanan, kita bisa membangun masyarakat Toraja yang adil dan makmur,” lanjutnya.

Upacara ditutup dengan penghayatan mendalam atas semboyan leluhur yang terus digaungkan dari generasi ke generasi : Misa’ Kada Dipotuo, Pantan Kada Dipomate (satu katu kita hidup, jika berbeda kita mati).*

Tags: , ,