TORAJA – Aksi kemanusiaan penyalaan 1.000 lilin yang digelar di halaman plaza kolam Makale pada Rabu (15/05/2024) dianggap diabaikan oleh Pemda Tana Toraja.

Hal ini disampaikan oleh Jevial Kuasa selaku kordinator lapangan. Jevial mengatakan bahwa kegiatan yang dihadiri ratusan massa dari kalangan pemuda dan tokoh masyarakat Simbuang Mappak ini tidak dihadiri perwakilan Pemerintah Daerah untuk turut menyampaikan duka cita bagi keluarga korban.

“Kami merasa kecewa kepada Pemda Tator yang tidak sempat hadir padahal ini adalah duka Toraja pada umumnya dan sudah mangajukan undangan agar hadir bersama-sama untuk merefleksikan duka yang terjadi di kampung kami, kita memang tidak dipandang,” Terang Jevial.

Jevial menegaskan bahwa aksi yang digelar murni kegiatan kemanusiaan yang diekspresikan dalam bentuk penyalaan lilin dan doa bersama untuk bayi asal Simbuang yang dilahirkan di pinggir jalan dan nyawanya tak tertolong.

“Aksi yang digelar sebagai ungkapan belasungkawa atas kematian seorang bayi yang dilahirkan di tempat yang tidak pantas secara darurat di pelosok Tana Toraja karena persoalan infrastruktur titik longsor yang terjadi hampir 2 bulan lamanya,” ucap Jevial.

Dimianus Tanggi Somba atau akrab disapa Arga salaku perwakilan dari pemuda simbuang Mappak menegaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan bentuk duka terhadap Adik yang terpanggil pada 11 Mei 2024 lalu.

“Ini adalah peristiwa yang memilukan, semoga ini kejadian terakhir di Simap secara khusus, lilin ini akan menjadi penerang jalan menuju sang pencipta dan akan menjadi pendoa bagi kita semua yang masi terus berjuang untuk mendapatkan kesejahteraan dan keadilan,” ucap Dimianus yang sekarang menjabat sebagai ketua umum IPSIM.

Persoalan akses jalan menuju ke Simbuang Mappak memang sangat memprihatinkan, terutama pasca terjadinya bencana tanah longsor yang nyaris memutus total akses menuju kedua kecamatan paling pinggir Tana Toraja tersebut.

Bencana tanah longsor di wilayah Simbuang Mappak terjadi pada awal bulan April lalu. Dari catatan infotoraja, dua minggu pasca longsor, tepatnya pada 19 April 2024 lalu, seorang pasien terpaksa ditandu sejauh 8 kilometer agar dapat dirujuk ke rumah sakit akibat jalan yang tertimbun longsor tidak segera ditangani.

Tiga minggu pasca peristiwa tersebut (11/5/2024), kejadian memiluhkan kembali terjadi, seorang Ibu (MA) terpaksa melahirkan di pinggir jalan saat dalam perjalanan rujukan menuju Makale. Mobil yang ditumpangi MA tak dapat melanjutkan perjalanan akibat material longsor belum dibersihkan. Keluarga dan bidan setempat sempat menggunakan sepeda motor untuk melanjutkan rujukan, namun diduga karena kondisi jalan yang buruk dan mengakibatkan guncangan, MA semakin merasa kesakitan.

Mereka kemudian berhenti dan melaksanakan persalinan di pinggir jalan dengan peralatan seadanya. Naas, saat MA melahirkan bayinya tak bisa diselamatkan dan dinyatakan meninggal dunia

Tags: , , , ,