Salah satu penyakit vektor yang masih menjadi concern utama di berbagai negara adalah Demam Berdarah. Hampir semua daerah di Indonesia memiliki kasus Demam Berdarah setiap tahunnya. Tidak terkecuali daerah Toraja Utara, di Provinsi Sulawesi Selatan.

Demam berdarah sendiri merupakan penyakit yang ditularkan melalui tusukan nyamuk Aedes aegypti, yang terinfeksi virus Dengue. Tusukan yang disebabkan oleh nyamuk tersebut akan menyebabkan infeksi virus Dengue yang masuk ke dalam tubuh melalui aliran darah pada manusia.

Kasus demam berdarah di Kabupaten Toraja Utara pertama kali di temukan pada tahun 2015. Jumlah kasus demam berdarah yang tercacat oleh Dinas Kesehatan Toraja Utara hingga bulan Juni 2019 terdapat 14 kasus demam berdarah. Berdasarkan Badan Pusat Statistik Kabupaten Toraja Utara tahun 2017 terdapat sebanyak 29 kasus DBD yang terjadi di tiga kecamatan diantaranya yaitu: Kecamatan Rantepao, Kecamatan Kesu, dan Kecamatan Tallunglipu.

Lingkungan menjadi salah satu faktor penyebab tingginya penyakit demam berdarah, terutama pada lingkungan yang berair. Hal ini karena air menjadi tempat perindukan terbaik bagi nyamuk Aedes aegypti untuk bertelur dikarenakan aman dari predator serta memiliki suhu yang sesuai untuk penetasan. Hal ini menjadi faktor utama peningkatan kasus DBD yang lebih sering terjadi pada musim hujan. Selain itu faktor resiko lain yang berkaitan dengan mortalitas infeksi Dengue adalah status imunologis pejamu, kepadatan vektor nyamuk, transmisi virus Dengue, faktor keganasan virus, dan kondisi geografis setempat.

 

Masalah Utama Dan Pengendalian Terpadu

Permasalahan yang masih dialami oleh masyarakat Toraja dalam pengendalian vektor dari nyamuk Aedes agypti ini terkait dengan kesadaran masyarakat dalam menjaga lingkungan agar tidak menjadi sarang nyamuk penyebab Demam Berdarah. Selain itu, rasa acuh tak acuh dari masyarakat terkait keberadaan nyamuk Aedes agypti di lingkungan perumahan juga menjadi salah satu masalah yang masih sering terjadi.

Di samping itu, upaya pemerintah dalam menanggulangi permasalahan terkait kasus DBD di Toraja Utara juga belum maksimal. Upaya yang dilakukan oleh pemerintah di Toraja Utara antara lain, penggunaan insektisida malation untuk memberantas nyamuk dewasa dengan cara pengasapan (fogging), penggunaan temephos dalam bentuk abate, dan penyuluhan DBD di setiap puskesmas.

Sejauh yang terlihat upaya yang paling mencolok adalah kegiatan pengasapan (fogging). Fogging sendiri merupakan penyemprotan insektisida kimia dalam bentuk aerosol. Setelah diterapkan berulang kali, kemungkinan bahan insektisida yang disemprotkan menjadi resisten terhadap nyamuk, karena nyamuk telah beradaptasi dengan insektisida yang dipakai, sehingga kegiatan fogging menjadi tidak maksimal lagi. Selain itu, penggunaan insektisida seperti ini juga akan meninggalkan residu bagi lingkungan, sehingga menjadi salah satu faktor pencemaran lingkungan. Penggunana fogging juga menyebabkan kematian pada organisme non target, sehingga metode ini perlu dievaluasi lagi jika akan terus dilakukan.

Selain upaya pemerintah, upaya yang bisa dilakukan masyarakat juga antara lain, Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN), penanaman tanaman biolarvasida, mengatur cahaya dan ventilasi dalam rumah, memelihara ikan pemakan jentik nyamuk, dan gerakan 4M yaitu Menguras, Menutup, Memanfaatkan, dan Memantau.

Menguras dalam hal ini adalah mengosongkan penampungan-penampungan air yang sudah tidak digunakan, sehingga tidak menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk. Selanjutnya, Menutup rapat semua tempat penampungan air yang dipakai, lalu Memanfaatkan barang bekas sehingga sampah tidak menumpuk yang juga berpotensi menjadi tempat sarang nyamuk, dan Memantau semua tempat yang potensial menjadi sarang nyamuk.

 

Evaluasi Pengendalian

Evaluasi mengenai upaya-upaya yang telah dilakukan di atas yaitu kegiatan fogging sebaiknya dikurangi dikarenakan bahan kimia yang dipakai dalam kegiatan ini bisa berbahaya bagi manusia terutama bagi anak-anak. Penggunaan bahan kimia dalam pemberantasan nyamuk Aedes aegypti ini bisa diganti dengan bahan alam lainnya yang tentunya tidak membahayakan manusia. Contohnya, penggunaan daun jarak kepyar (Rinicus communis) sebagai biolarvasida yang tentunya dari segi ekonomis lebih murah. Sudah banyak penelitian yang membahas terkait daun jarak kepyar ini sebagai biolarvasida.

Selain itu, tanaman lain yang juga bisa digunakan untuk mengusir nyamuk Aedes aegypti adalah serai wangi, lavender, dan kecombrang. Beberapa tanaman ini dapat ditanam di sekitar rumah atau diletakkan di dalam rumah untuk membantu dalam mengusir nyamuk Aedes aegypti.

Upaya pengendalian DBD oleh pemerintah melalui kegiatan penyuluhan di Puskesmas harus dilakukan lebih sering dan digencarkan lebih lagi, karena masih banyak masyarakat yang bersifat acuh tak acuh pada nyamuk Aedes aegypti ini.

Upaya yang bisa dilakukan masyarakat juga masih belum maksimal karena kesadaran masyarakat yang berbeda-beda.

Kesadaran masyarakat akan bahaya dari nyamuk Aedes aegypti yang dapat menyebabkan DBD ini harus menjadi prioritas utama. Untuk itu, diperlukan kerja sama yang baik antar semua pihak dalam hal ini pemerintah, masyarakat, maupun stake holder setempat untuk bisa lebih tanggap lagi dalam penanggulangan kasus DBD di Toraja Utara.

 

Penulis : Yunita Kendek Marendeng (31200367)

Tags: , ,