TORAJA–Suara alat tenun bergema di Pasar Seni, Kecamatan Makale, Tana Toraja, Sulawesi Selatan, Sabtu (29/8/2026). Di antara deretan penenun yang tekun merangkai benang, tampak wajah-wajah muda yang ikut ambil bagian.

Mereka datang dari berbagai kecamatan untuk mengikuti lomba menenun dalam gelaran Pesona Tenun dan Budaya Tana Toraja 2026 yang digelar Pemda Tana Toraja.

Kehadiran generasi muda menjadi pemandangan yang cukup mencolok dalam kegiatan yang selama ini lekat dengan para penenun berusia lanjut.

Bagi masyarakat Toraja, menenun bukan sekadar keterampilan membuat kain. Setiap motif, warna, dan proses pembuatannya menyimpan nilai budaya yang diwariskan secara turun-temurun.

Namun, keberlangsungan tradisi tersebut kini menghadapi tantangan regenerasi.

Salah seorang peserta muda, Agustina (23), dari Kecamatan Simbuang, menjadi bagian dari generasi yang memilih mempertahankan tradisi tersebut.

Agustina mengaku mulai belajar menenun sejak duduk di bangku SMP. Keterampilan itu diperolehnya dari orang tuanya dan terus dikembangkan hingga kini.

“Saya sudah dua kali hadir di kegiatan ini. Sangat bagus karena lebih banyak yang tertarik menenun,” ujar Agustina sembari menenun.

Menurutnya, kegiatan seperti Pesona Tenun dan Budaya penting untuk membuka ruang bagi penenun dari kampung untuk menunjukkan keterampilan sekaligus mengembangkan kreativitas.

Ia berharap kegiatan serupa terus dilaksanakan setiap tahun sehingga semakin banyak anak muda yang melihat menenun bukan sebagai pekerjaan masa lalu, melainkan keterampilan yang tetap relevan di masa kini.

“Harapannya tahun depan bisa diadakan lagi kegiatan seperti ini supaya orang-orang di kampung juga bisa lebih meningkatkan penghasilannya,” harapnya.

Di tengah arus modernisasi, benang-benang yang dirajut para penenun muda itu seolah menjadi penanda bahwa tradisi belum kehilangan penerusnya.

Tags: