TORAJA–Sebanyak 2.072,25 hektare lahan pertanian di Kabupaten Tana Toraja tercatat terdampak kekeringan. Pemerintah daerah pun memperkuat langkah penanganan dengan mengoptimalkan program pompanisasi bersama Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan.
Langkah ini merupakan tindak lanjut atas usulan Pemkab Tana Toraja terkait kebutuhan mesin pompa air dan sumur bor untuk membantu memenuhi kebutuhan air lahan pertanian yang terdampak kekeringan.
Tim Brigade Pemprov Sulsel turun langsung ke sejumlah lokasi pada Rabu (12/8/2026).
Bersama Dinas Pertanian, petugas POPT, penyuluh pertanian, dan kelompok tani, tim melakukan pompanisasi di Lembang Rantedada, Kecamatan Mengkendek, serta Lembang Kolesawangan, Kecamatan Malimbong Balepe.
Pompa digunakan untuk mengalirkan air ke areal persawahan yang mengalami kekurangan pasokan air, khususnya lahan yang tanaman padinya masih berada dalam masa pertumbuhan.
Pemkab Tana Toraja sebelumnya mengusulkan 23 unit pompa air dan tujuh unit sumur bor sebagai bagian dari upaya penanganan kekeringan.
Pemerintah juga merencanakan pemanfaatan tenaga surya sebagai sumber listrik untuk sumur bor yang diusulkan.
Penanganan ini menjadi bagian dari sinergi pemerintah kabupaten dan provinsi dalam menghadapi dampak kekeringan yang dipengaruhi fenomena El Nino.
Pemerintah berharap dukungan pompanisasi mampu mencegah meluasnya dampak kekeringan terhadap lahan pertanian serta membantu petani mempertahankan hasil produksi.
Kolaborasi antara Pemkab Tana Toraja dan Pemprov Sulsel akan terus diperkuat agar penanganan kekeringan berjalan efektif, sekaligus mendukung keberlanjutan sektor pertanian dan ketahanan pangan daerah.
