TORAJA–Ratusan warga bergerak perlahan membentuk lingkaran besar di Lapangan Tana Toraja Masero, To’bone, Kecamatan Makale, Senin (31/8/2026). Di tangan mereka, beragam hasil bumi dibawa mengelilingi lapangan.
Pemandangan itu menjadi salah satu atraksi dalam Festival Tallu Lolona. Warga dari berbagai kecamatan berjalan berbaris hingga membentuk lingkaran yang menyerupai matahari.
Hasil bumi yang dibawa pun beragam, mulai dari kopi, gabah, sayur-mayur, ikan hingga berbagai hasil pertanian lainnya. Setiap kecamatan membawa hasil panennya masing-masing untuk dipamerkan sebagai bentuk rasa syukur atas hasil bumi yang diberikan alam.
Ratusan peserta yang terdiri atas petani, seniman dan masyarakat mengenakan kain tenun Toraja dengan warna-warni khas.
Merah, kuning, hijau hingga perpaduan berbagai warna membuat lapangan dipenuhi warna dan menjadi bagian dari kemeriahan festival.
Festival Tallu Lolona digelar untuk memperingati Hari Jadi ke-779 Toraja dan Hari Jadi ke-69 Kabupaten Tana Toraja. Gubernur Sulawesi Selatan Andi Sudirman Sulaiman turut hadir dalam kegiatan tersebut.
Namun, lingkaran yang dibentuk para peserta bukan sekadar atraksi festival.
Bentuk tersebut menggambarkan matahari yang menyinari seluruh penjuru bumi. Dalam budaya Toraja, matahari atau Pa’ Bare Allo (sinar matahari) tidak hanya dipandang sebagai sumber cahaya, tetapi juga simbol kemakmuran dan kehidupan.
Filosofi itu berkaitan erat dengan konsep Tallu Lolona, yang berarti tiga unsur kehidupan. Ketiganya adalah Lolo Tau atau manusia, Lolo Tananan atau tumbuh-tumbuhan, serta Lolo Patuan atau hewan.
Ketiga unsur tersebut dipandang sebagai satu kesatuan yang saling bergantung. Manusia tidak dapat dipisahkan dari alam, begitu pula tumbuh-tumbuhan dan hewan yang menopang keberlangsungan kehidupan.
Pesan itu coba dihidupkan kembali melalui Festival Tallu Lolona. Bukan hanya sebagai perayaan budaya, tetapi juga pengingat bahwa kehidupan harus dijaga secara bersama-sama.
