Sembari menunggu jadwal pelantikan oleh Bupati Tana Toraja, Dewan Kerajinan Nasional Daerah (DEKRANASDA) Kabupaten Tana Toraja yang telah menerima SK pengangkatan dari pengurus Provinsi Sulawesi-Selatan melalukan langkah cepat identifikasi sentra dan lokasi kerajinan serta jumlah pengrajin yang ada di Tana Toraja.

Kegiatan pengurus Dekranasda Tana Toraja periode 2021-2026 ini diawali dengan kunjungan ke Kecamatan Rembon pada Jumat (7/5/2021).

Tim yang dipimpin Dr. Erni selaku Wakil Ketua Dekranasda yang juga merupakan Istri Wakil Bupati Tana Toraja mengunjungi sentra kerajinan tanah liat dan anyaman bambu di Lembang Ullin kemudian bergerak ke sentra kerajinan Tenun di Lembang Maroson.

Dalam kunjungan tersebut, tim Dekranasda melaksanakan dialog bersama para pengrajin, mengidentifikasi jumlah pengrajin, melihat langsung proses produksi dan menjejaki proses pemasaran produk yang selama ini dilakukan para pengrajin.

Sekretaris Dekranasda Tana Toraja, Jens yang turut hadir bersama rombongan mengatakan perlunya kegiatan identifikasi ini sebagai dasar penyusunan program kerja.

“Kegiatan indentifikasi ini harus kami lakukan agar dapat mengetahui data pengrajin dan sentra yang ada sebagai dasar untuk penyusunan program kerja dalam mengangkat dan mendorong produk-produk hasil kerajinan Tana Toraja sehingga bisa bersaing dengan produk diluar sana”, ungkap Jens.

Di Lembang Ullin, tim Dekranasda bertemu dengan pengrajin tanah liat yang memproduksi belanga tanah (kurin litak) menggunakan cara yang masih sangat tradisional.

Melihat kondisi tersebut, Dekranasda Tana Toraja akan mengupayakan bantuan alat modern untuk meningkatkan kualitas hasil produksi, penerapan model yang lebih unik dan harga yang bisa bersaing di pasaran.

Masih di Lembang Ullin, tim Dekrnasda juga menjumpai Beny, pengrajin anyaman bambu yang baru saja lulus SMK.

Melihat keuletan Beny, Dekranasda Tana Toraja berjanji akan memfasilitasi anak muda ini untuk bisa meningkatkan produksi kerajinannya.

“Kita akan fasilitasi dan diharapkan dapat menularkan keterampilan menganyam bambu ke anak-anak muda susianya”, terang Jens pada @infotoraja.

Dalam kunjungan ke sentra tenun Maroson, tim juga melakukan diolog serta melihat proses produksi tenun Toraja yang masih menggunakan benang kebanyakan (extra).

“Akan kami upayakan untuk memfasilitasi bahan baku tenun dengan menggunakan benang yang lebih berkualitas lagi sehingga hasil tenun bisa lebih adem, lembut dan menerapkan berbagai varian motif, sehingga Tenun Toraja bisa bersaing dengan tenun-tenun lain di Sulawesi Selatan ataupun dikanca Nasional”, tutup Jens.

 

[mashshare]

Tags: , , , , , , ,